INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Saat ini, memang sudah santer nama capres yang diusung beberapa partai politik. Di antaranya Ganjar Pranowo yang diusung PDIP-PPP, Anies Baswedan didukung NasDem-Demokrat-PKS, dan Prabowo Subianto yang telah dideklarasikan poros Gerindra-PKB. Namun demikian kalangan ekonom menganggap belum ada calon presiden yang secara spesifik menyampaikan ide-ide kebijakan ekonominya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia , Mohammad Faisal mengungkapkan, kondisi ini menunjukkan keterbatasan para capres dalam memahami isu-isu strategis makro ekonomi yang menjadi solusi perekonomian Indonesia.
“Dan semestinya substansi-substansi ini yang muncul untuk sebagai bagian dari program atau pemikiran yang mereka sodorkan ke depan sehingga mereka bisa di ketahui oleh masyarakat sebagai pemilih mereka,” ujar Faisal, Jumat (4/8).
Faisal mengakui, sebetulnya pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memiliki konsep yang baik dan arah yang betul untuk menghadapi permasalahan ekonomi utaka Indonesia seperti middle income trap, melalui pembangunan infrastruktur, hilirisasi, hingga ekonomi hijau.
Namun, garis besar itu masih belum mampu membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia makin cepat untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Maka, ia mengingatkan capres mendatang harus mengakomodir implementasi detail kebijakannya secara benar.
“Banyak kelemahan di sini yang harus diperbaiki, baik dari sisi efektifitas dalam mencapai tujuannya, maupun dalam hal inklusivitas, artinya bukan hanya menekankan pada pencapaian tujuan pertumbuhan ekonomi dan lain-lainnya, tapi bagaiamana trickle down effect nya, pemerataannya bagi masyarakat,” pungkasnya.
Faisal menilai, kebijakan ekonomi saat ini yang sangat butuh didengar masyarakat terkait transformasi ekonomi Indonesia. Ini berkaitan erat dengan upaya pemerintah mendatang menghadapi tekanan ekonomi global hingga lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju.
“Transformasi yang artinya pendekatan pembangunan ekonomi ke depan tidak dengan bisnis as usual, tidak butuh dengan cara yang sama ya, karena kita membutuhkan percepatan,” sambungnya.
“Walaupun beberapa hal yang sudah ada yang dilakukan pada saat sekarang mengarah pada transformasi, tapi belum terlalu esensial, perlu banyak perbaikan, dan ini yang semestinya disodorkan atau disampaikan oleh para capres itu,” tutupnya.