Site icon indonesiasketsa.com

Suksesi Kepemimpinan Nasional 2024: Teka-teki Pilpres

INDONESIASKETSA.COM, Pergantian kepemimpinan nasional Indonesia (suksesi Indonesia) pada tahapan proses pencalonan, fase penentuan bakal calon menjadi calon, sampai fase kampanye, khususnya pilpres, pada tahap ini belum menghawatirkan. Karena semua orang dan kelompok-kelompok yang sementara berkompetisi memperebutkan kekuasaan, mereka semua, masing-masing masih berharap cemas akan menjadi pemenang.

Eskalasi emosi masing-masing pesaing yang sedang berjuang merebut kursi (kekuasaan) masih bisa mereka kendalikan, jadi masih ada semangat bersama yang tak tertulis dalam cita² mereka bahwa semua masih berharap cemas jadi pemenang. Skenario-skenario yang sudah disiapkan secara rinci dalam rumusan yang canggih, masih dijalankan dengan apik dan terukur. Namun pada tahap ini, sudah tidak bisa dibendung hujatan-hujatan dari semua kelompok yang lagi bertarung (saling hujat menghujat) antara satu dengan yang lainnya, saling membuka aib dan kebobrokan antara sesama saudara warga negara, tapi untuk orang awam seperti saya dan saudara-saudara kami, fase ini sudah cukup merasakan dan membingungkan, karena sudah menciptakan emosi kebencian, baik kebencian yang bernuansa SARA (ras) maupun kebencian yang dibangun berdasarkan emosi ketimpangan ekonomi sosial.

Apapun alasannya, kita semua harus bisa menahan emosi untuk tidak larut dan terlibat secara aktif memperparah jurang kebencian yg sudah lama terbangun , yang sudah lama tumbuh di alam bawa sadar masyarakat indonesia.

Yang saya masih ragu, pada tahapan selanjutnya, yakni tahapan penetapan kontestan yang dianggap menang oleh penyelenggara atau panitia pemilu, pada fase ini, 99 % bisa diprediksi akan terjadi kekacauan, dan keributan. Akan muncul keengganan dan penolakan menerima sesuatu yang dianggap fakta oleh pihak yang merasa kalah untuk menerima kekalahan, dengan berbagai macam alasan dan dalil, dan semoga bukan di fase ini, kerusuhan mulai terjadi, dan kalau ini terjadi, mudah-mudahan tidak menelan korban.

Kalau kita berandai andai saja, mudah-mudahan tidak terjadi, tapi kalau memang terjadi, pertanyaannya: 1. Apa yg akan kita lakukan? 2. Kira-kira kelompok mana yang bisa menyelesaikan kekacauan ini? 3. Apa kekacauan ini akan selesai dengan sendirinya atau alam yang akan menyelesaikan? Kita sama-sama bertanya dalam kesadaran kita masing-masing.

Belajar dari sejarah, di semua negara dalam perjalanan peradabannya, jika terjadi situasi darurat, dimana kekacauan itu terjadi tanpa arah, tanpa sudut, tanpa tanding, maka hanya kelompok atau komunitas yang solid jiwa dan raganya yang bisa terlibat mengkonsolidasikan dan melakukan gerakan peredam, gerakan konsolidasi dan gerakan penetrasi, namun fakta sosiologi di indonesia sekarang, kelompok sipil sudah tidak ada yang solid, hanya kawan-kawan dari Muhammadiyah yang 10 tahun terakhir ini agak diam dan membatasi diri untuk tidak terlibat dalam praktek politik bunyi-bunyian, kalau kawan-kawan NU, saya agak takut memberi komentar apa solid atau bagaimana.

Lalu, pertanyaannya? Aparat atau kekuatan pengamanan Negara POLRI dan TNI, apa siap dan sadar akan goncangan salju gunung es yang setiap saat, bisa meleleh menelan bumi. Saya melihat, kalau situasi ini terjadi Polri agak berat diharapkan menjalankan fungsi KAMRA nya karena untuk sementara ini, citranya di mata masyarakat agak buram, kacanya duluan kena salju. Tinggal TNI, mudah-mudahan TNI solid dan masih satu komando, kalau TNI masih memiliki jiwa patriot dan ideologi keprajuritan, berarti sandaran kita tidak ada lain kecuali TNI.

Situasi sekarang ini persis sama dengan situasi di akhir kekuasaan Soekarno. Sosok yang punya jasa kuat sebagai tokoh proklamator kemerdekaan RI, tokoh yg diakui oleh dunia internasional pada akhirnya beliau juga lengser dan dilengserkan, Soekarno yang sangat superior akhirnya juga lengser karena situasi yang tak terkendali, dan ada Pak Harto dkk dari TNI AD yang mengambil alih kekuasaan pengamanan negara dan bangsa, cuma takdir menentukan lain, Pak Harto karena keenakan, yang tadinya mandat hanya mengambil alih pemulihan keamanan negara, beliau melanjutkan pengambil alihan kekuasaan atas negara yang berlangsung begitu lama. Fase ini kemudian disebut oleh para orang pintar sebagai fase atau era orde lama ke era orde baru, kemudian ada serpihan sejarah, dalam perjalanan NKRI kita, orang menyebutnya dari orde baru ke orde reformasi.

Catatan penting dari setiap pergantian orde. Selalu memakan tumbal dan korban. Pandangan saya sebagai orang bodoh, akan terjadi lagi pergantian orde. Kalau ini terjadi, jangan sampai kita masuk golongan orang-orang yang akan menjadi bagian dari korban dan tumbal.

Yang sekarang perlu dicermati, kalau dulu Soeharto sebagai simbol yang mandatnya hanya mengendalikan keamanan, tapi karena keenakan, beliau melanjutkan dalam kurun waktu yg cukup lama. Kalau nanti tentara yang mengambil alih kekuasaan, kira-kira apa akan kembali berulang , atau terduplikasi kembali perjalanan Soeharto, semoga ini tidak terjadi karena situasi internasioanl tidak bersahabat dengan simbol-simbol TNI.

Ancu Usman Sadikin
Penerus Perjuangan Perintis Kemerdekaan Indonesia (PPPKI)

Exit mobile version