Lama sejak beberapa bulan yang lalu, hampir saja tidak ada waktu untuk kembali mengunjungi dirinya. Dia yang sudah cukup lama kutinggalkan oleh karena tugas yang mesti kuselesaikan. Ada rasa rindu yang menghinggapi. Meski begitu, selalu saja perasaan itu kuabaikan, karena alasan yang cukup klise dan bahkan terkesan sangat naif “Tugas harus kuselesaikan sesuai target”. Terkadang aku bertindak begitu egois, bahkan pada perasaanku sendiri. Setiap kali kerinduan itu hadir, pada saat itu pula aku berusaha untuk menghilangkan pada jalan pengabaian. Berharap, perasan itu akan hilang dengan sendirinya oleh aktivitas yang kulakukan. Upaya itu ternyata cukup berhasil meskipun harus dengan bermalas-malasan terlebih dahulu. Tapi cukup membahagiakan.
Pada waktu yang terus berubah, pikiranku senantiasa diupayakan untuk selalu fokus, dengan harapan semuanya akan terselesaikan dengan cepat. Sebab, ini menjadi harapan terbesar bagi mereka, begitupun dengan diriku sendiri tentunya. Mengingat itu saja, sudah cukup membuatku bertekad, bahwa ini harus diselesaikan, meskipun dengan mengorbankan perasaan rinduku kepadanya. Sebab, aku tipe orang yang tidak bisa mengerjakan sesuatu atas kehadiran apapun diluar dari pada itu. Jadi sebisa mungkin hal-hal yang membuat fokusku pecah selalu diupayakan untuk k hindari. Termasuk bertemu denganya untuk sekedar berbincang-bincang. Meskipun, kesempatan-kesempatan seperti ini sebenarnya sangat kuinginkan, sebab padanya selalu membuat suasana hatiku menjadi indah, semangatku tersuluk dan selalu bisa membuat motivasiku meningkat. Tapi, apapun itu yang terpenting bagiku saat ini adalah terus berusaha agar semuanya berjalan sesuai harapan.
Waktu yang kian beranjak, beriringan dengan laju harapan dan usaha. Pada hening malam, tak lupa segalanya kubincangkan dengannya lewat bait-bait doa yang kusemogakan. Dengan tetap mendidik diri pada makna sebuah ketetapan. Bahwa tidak boleh bagi kita untuk mengatur mana yang perlu diaminkan dan yang tidak. Sebab, perkara itu adalah bagian-Nya, bagian kita Cukuplah berupaya dan doa adalah salah satu diantaranya.
Purnama kedua, setelah permulaan itu dimulai. Masih dengan aktivitas yang sama, belum kunjung jua sampai pada titik yang kutetapkan. Seiring segalanya berjalan, ada perasaan jenuh dan malas mulai menghantui pada aktivitas yang kujalani. Pada malam, hanya berhadapan dengan layar komputer, membuka file yang hendak diselesaikan, menandai apa yang salah dan memperbaiki apa yang perlu. Jika saja, ide sudah tidak menemukan jalan keluarnya, pada saat seperti ini kejenuhan mulai hadir, terkadang mengutuk diri yang terlalu banyak kurangnya, ketidakmampuanku untuk terus menemukan ide dalam menyelesaikan tugasku, menjadi sedikit terhambat, lalu, ingin sejenak meminta diri.
Pada suatu sore saat senja mulai muncul diperaduannya, dengan bantuan aplikasi ojek online aku beranjak menuju sebuah pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta Barat, yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya butuh waktu 15 menit. Aku meminta diri untuk melihat-lihat. Setibaku di sana, langsung kugiring kakiku pada sebuah tempat yang biasa kukunjungi, tempat yang bisa kutemukan begitu banyak orang-orang yang punya beragam pikiran. Disanalah, semua orang yang menurutku, adalah orang-orang luar biasa tengah berdiri, duduk dan bahkan berbaring. Keberadaan mereka disana membuat banyak orang betah untuk berlama-lama, dan saya salah stunya. Meskipun, saya tidak seintes yang lainnya. Aku menikmati setiap sudut ruangnya, pada setiap dimensi yang ada. Sesekali kuperhatikan, beberapa diantara mereka tengah asik berbincang-bincang, dengan segala pikiran dan pengetahuannya. Lalu aku mencari, tentang sesosok ia di dalamnya.
Kulayangkan sepasang retina mata kupada segala yang mungkin, berharap apa yang tengah kucari segera kutemui. Waktu terus berubah, dan senjapun sudah mulai menjingga. Aku masih belum juga menemukanya. Barangkali, ia tidak disini pekikku dalam hati. Mungkin, satu-satunya tempatnya menimati senja adalah di sana, di tempat saat pertama kali kumelihatnya. Saat siluet jingga mulai memenuhi wajah semesta. Pada saat dimana aku tidak sengaja melihatnya berdiri menikmati senja yang merona indah. Entah kenapa, aku menyukai pemandangan itu, pemandangan dimana ia berdiri menikmati senja, dengan segala keindahanya. Barangkali ini senja yang paling indah dari senja-senjaku yang lalu.
Tepanya pada beberapa bulan terkahir ini. Mungkin, senja sore itu akan sama seperti biasanya, jika saja ia tidak ada saat itu. Namun, aku meyakini bahwa keindahan saat itu lahir karena keberadanya yang membuatku terpesona. Entah aku terpesona pada senja yang menjingga itu, atau justru padanya. Aku juga kurang yakin, satu-satunya yang kuyakini bahwa aku memang tengah terpesona, barangkali juga aku telah mulai menyukainya. Sejak saat itu, saat kumelihatnya di sana, berdiri dengan kaos berwarna hitam yang betuliskan Kala, lalu jingga mengambil bagianya. Maka semakin lengkaplah keindahan itu.
Masih, aku mencari-cari sosok itu, tapi waktu belum juga tiba sebagai pihak yang menentukan takdirku dengannya. Lalu, pada diri mencoba bersikap bijak. Mendidik diri untuk tidak ngotot menghendaki takdir. Sesaat kuseret diriku menikmati senja, setelah mengalah pada harap yang kehilangan arah. Namun sungguh, kemungkinan selalu punya wajah di setiap harap yang berlalu patah. Tetiba, aku dikagetkan oleh sepasang retina mata indah, berada tepat di depan mataku. Sungguh anugerah Tuhan yang maha indah. Belum selesai aku mengagumi keindahannya, kembali aku terjatuh pada keindahan lain yang dimilikinya. Pada sepasang bola mata itu, pada keteduhan yang dimiliknya.
Pada kesadaran yang benar-benar sadar, dalam kelembutan suara tapi tetap menghangatkan, ia menyapaku. Aku berusaha untuk tetap waspada, sebab aku selalu punya pengalaman yang tidak menyenangkan setiap kali berkomunikasi dengan sosok yang baru kukenali. Bukan, karena mereka tapi lebih karena diriku sendiri. Aku yang selalu berpikiran untuk selalu waspada pada mereka yang baru kukenali, sebab bisa jadi mereka adalah sosok yang berpura-pura manis tapi pada akhirnya akan menunjukkan bagian diri mereka yang sebenarnya, atau pada pikiran bahwa mereka hanyalah orang-orang yang mencoba untuk melakukan penipuan atas nama kebenaran.
Namun, sesaat segala pikiran hilang bagai tersihir oleh sebuah mantra. Mantra yang memang berasal padanya, pada setiap diksi yang terurai, mengudara pada kalimatnya yang menari indah dalam bahasanya yang penuh intimidasi, kadang-kadang. Entah mengapa aku mulai tertarik. Tapi seperti biasa, ku tidak begitu banyak bicara, terlebih lagi pada mereka yang baru kukenal. Aku justru mendikte diri untuk lebih banyak mendengarkan. Meski begitu aku cukup menikmati perbincangan ini. Tanpa disadari, aku mulai mencair, mulai bisa menyeimbangkan perbincangan ini. Membincang segala hal, terlebih lagi tentang bagaimana kita sebagai manusia yang padanya selalu dihantui suka dan luka.
Waktu terus bergulir, masih bersamanya membersamai kata dalam sebuah pertemuan. Setiap diksi yang terurai ada makna yang memukau. Pada kata yang mengudara, meluruh segala keangkuhan. aku menemukan diriku padanya, seakan dirinya paling tahu tentangku, lebih dari diriku sendiri. Memuakkan memang, menemukan orang lain yang justru mengetahui tentang kita, tapi disanalah pengetahuan itu ada, pelajaran itu bermula. Masih dipojok sana, aku bersamanya duduk menceritakan segalanya, lebih tepatnya ia bercerita, dan aku hanya menikmati setiap katanya. Aku tidak yakin, bisakah bagiku menginterpretasikan setiap apa yang ia sampaikan dengan benar sebagai pesan pertemuan. Aku tak peduli, bukankah semua orang berhak menginterpretasikan apa yang ditangkapnya sesuai dengan apa yang mereka pahami? Sesuai dan tidaknya, itu urusan dia. Lagi pula, membatasi ruang interpretasi tidak terlalu bagus juga, hanya akan membuat kita menjadi manusia yang berpikiran sempit.
Hari semakin gelap tapi aku masih denganya, duduk pada pojok ruang tempat kami dipertemukan. Duduk berhadapan mengolah rasa masing-masing. Semesta memang penuh kejutan, selalu datang dengan tiba-tiba, aku sungguh menyukainya. Menyukai kejutan yang tiba-tiba ini. Semesta barangkali telah bersekongkol denganya, mengatur segalanya dengan indah. Aku masih, betah berjam-jam bersamanya, Meskipun telah banyak hal yang ia ceritakan, aku semakin meikmatinya, tak ada kejenuhan yang biasa kuhadapi, saat berlama-lam bersama siapapun, tapi kali ini, aku malah mendapati diriku semakin bersemangat. Pada setiap kalimatnya yang tak biasa, pada bahasanya yang penuh puitis, pada keindahan katanya yang sastrawi, pada pribadinya yang hangat, penuh pesona dan menarik. Barangkali aku telah kalah, kalah pada pertahananku sendiri. Pada diri ku yang tidak bisa beranjak bahkan sekedar membeli segelas kopi, memalukan pekik ku dalam diam, mengutuk diri.
Entah apa yang terjadi, yang aku tahu ada rasa yang tak biasa menjalari sukma ku. Padanya, pada sosok yang tengah duduk di hadapanku saat ini, aku mulai dan bahkan telah menyukainya. Barangkali karena ia berbicara sastra, atau mungkin menyukai puisi. Atau juga karena ia adalah Kala, dalam saka untuk lara. Entahlah, aku benar-benar menyukainya, aku jatuh cinta padanya. Pada setiap katanya yang penuh makna, pada setiap katanya yang penuh pelajaran, pada pribadinya yang hangat, pada sosoknya yang menarik. Menarikku kedalam dunianya, dunia sastranya, dunia puisinya, dunia pengetahuannya. Pada keindahan kisahnya untuk Saka dalam Lara, Keindahannya meramu kata yang sederhana mejadi sangat bernilai tinggi, menjadi mewah dan bahkan mahal.
Aku, bersamanya menamatkan Kala, pada sudut ruang yang biasa kusebut Ruang Senjaku. Sebuah buku yang sangat menarik, bagi mereka yang tidak hanya menyukai puisi dan sastra. Bahkan bagi mereka yang tidak menyukai kedua-duanya, akan jatuh cinta pada Kala, pada kisahnya yang menarik, pada ceritanya yang penuh pelajaran, bagaimana kita yang pernah luka dan menolak untuk melupa, dengan puisi dan syair, pada pilihan diksinya. aku jatuh Cinta pada kala, ya, Kala berhasil membuatku jatuh cinta lagi.
Aku jatuh cinta kepada Kala, pada saka untuk lara. Sebuah pengakuan yang sebenarnya tidak boleh ku Proklamirkan. Karena aku takut, pada waktu berikutnya kudapati diriku tidak lagi menyukaimu karena, egoku! Tapi, perubahan adalah pasti! Maka aku tidak ingin memilikimu secara egois, oleh karenanya kusampaikan Kala mu pada yang lainnya!
“Jika perubahan adalah satu-satunya yang pasti. Maka ketidakpastian akan dimiliki oleh waktu. Karena pada detik yang kesekian, aku mendapati diriku jatuh cinta pada seseorang yang tidak ingin secara egois aku miliki, lalu kita diselundupkan dalam kala, sebagai pengantar pesan utusan semesta.”(Syahid_Muhammad)
Penulis: Novi Anggreani (Peminat Sastra)