INDONESIASKETSA.COM, Istanbul – Gempa berkekuatan 7,8 yang melanda Turkiye dan juga Syria kemungkinan akan menjadi salah satu yang paling mematikan dekade ini. Menurut sejumlah seismolog, retakan akibat gempa lebih dari 100 km (62 mil) antara lempeng Anatolia dan Arab.
Korban tewas akibat gempa hingga Selasa (7/2) pagi lebih dari 3.300 orang dengan 15.834 terluka. Kemungkinan besar bakal terus bertambah karena banyak korban masih terjebak di reruntuhan.
Duta Besar RI untuk Turkiye Lalu Muhammad Iqbal menyebutkan para WNI harus dievakuasi ke Ankara karena sudah tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Sementara itu, rumah penampungan atau safe house yang disiapkan oleh pemerintah setempat sudah melebihi kapasitas.
Hingga 7 Februari 2023, tercatat sepuluh WNI mengalami luka-luka, empat di antaranya sudah mendapat perawatan di rumah sakit setempat, sedangkan enam lainnya, termasuk enam orang yang mengalami patah tulang akan dievakuasi untuk kemudian dirawat di rumah sakit di Ankara.
Iqbal menuturkan bahwa proses evakuasi memang tidak mudah karena harus dilakukan di tengah kondisi dingin dengan suhu cuaca sekitar minus 7 derajat Celcius dan badai salju.
“Proses evakuasi sangat sulit untuk dilakukan pemerintah Turkiye karena selain kekuatan gempa yang luar biasa besar, dengan lebih dari 10.000 bangunan hancur, tetapi juga cuaca ekstrem dalam dua pekan terakhir ini terjadi badai salju sehingga sulit sekali melakukan pergerakan” ungkap Iqbal.
KBRI Ankara menyebutkan terdapat sekitar 6.500 WNI yang terdata tinggal di seluruh Turkiye. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 orang bertempat tinggal di area gempa dan sekitarnya.
Sebagian besar WNI berstatus pelajar dan mahasiswa, sedangkan sebagian lainnya adalah WNI yang menikah dengan warga setempat, serta pekerja di organisasi internasional.